Publikasi EnergeyesXtra
Posted Date: 30 September 2015

Gawai atau gadget memang tak pernah lepas dari genggaman. Ponsel pintar, tablet, atau laptop kini sudah jadi kebutuhan. Sayangnya, produk teknologi tinggi tersebut bisa membuat mata cepat rusak. Dalam analisa medis, efek sinar biru disebut sebagai penyumbang utama terjadinya kerusakan mata. Sumbernya bisa dari lampu neon, layar LED, monitor komputer, smartphone, tablet, monitor laptop, dan sebagainya.

Meskipun memberikan banyak manfaat bagi proses penglihatan, ternyata visible light dari ponsel berefek buruk bagi kesehatan, khususnya sinar biru yang mempunyai panjang gelombang 415nm - 455nm. Akumulasi dari paparan sinar biru yang masuk ke mata jangka panjang dapat mempercepat terjadinya kerusakan retina. Namun bagi anda yang sudah terlanjut cinta dengan gaya hidup digital, melepaskan gadget menjadi sesuatu yang mustahil. Dengan fenomena ini pula beberapa produsen optik kini membuat solusi baru.

Salah satu yang sekarang sedang tren adalah kacamata antiradiasi sinar biru. Dengen penggunaan kacamata ini pula siapa pun bebas bermain gadget tanpa didera rasa takut terkena kebutaan. Tak hanya itu saja, untuk menarik perhatian, desain kacamata pun dirancang lebih cantik, inovatif, dan mengikuti selera pasar. Bingkainya dibalut warna-warna ceria, bahakn bentuk kacamata pun mengikuti tren fesyen dunia. Sebut saja kacamata bentuk kucing, bulat hingga oval dengan beberapa detail fram yang atraktif.

"Sinar biru gelombang pendek yang terus menerus bersinggungan dengan mata, efeknya akan timbul lelah, tegang di mata atau disebut dengan stres mata digital. Bayangkan, aktivitas itu dilakukan berjam-jam dalam sehari. Makanya harus ada solusi kacamata antiradiasi. Ini berlaku bagi mereka yang minus dan normal. Bahkan anak-anak juga disarankan karena mereka sudah melek digital," ujar Managing Director Polycore Indonesia, produsen lensa dan kacamata antisinar biru, Budhi Santoso.

Jelasnya, kacamata antisinar biru memang diproyeksikan bagi kaum muda serta kaum dewasa profesional yang "posesif" terhadap gadget. Gencarnya dunia sosial media hingga hiburan lewat corong digital, emdorong perubahan gaya hidup atau pola keseharian. Misalnya dalam penggunaan ponsel dan tablet, rata-rata orang Indonesia bisa mengahabiskan hingga tiga jam. Bahaya inilah yang mengintai masyarakat urban.

"Gelombang tern gadget tidak bisa dibendung, tapi kita harus cepat pula mencari solusinya. Jadi kalau ingin mata tetap sehat, selama kontak dengan gadget lebih baik kacamata digunakan terus. Atau saat jalan-jalan di mal, ke kampus atau kerja juga dipakai saja. Anggap sebagai terapi, agar mata tak terkena stres digital," bebernya.

Menilik fungsi, kacamata anti sinar biru sangat kaya manfaat. Selain menunjang fesyen aksesori mata, EnergeyesXtra ini juga dirancang untuk memperbaiki sisi kontras dan ketajaman penglihatan. Bahkan, lensa ini juga akan berfungsi mempertahankan kualitas persepsi warna. "Lensa EnergeyesXtra yang dipasang pada kacamata bisa mengurangi paparan sinar biru dari peringkat hingga 20 persen. Jadi gangguan mata buram, atau sakit pada pelupuk, juga akan berangsur membaik," katanya.

Lensa atau kacamata antisinar biru, kini sudah banyak didapatkan di berbagai optik. Ini berlaku bagi mereka yang sebelumnya memiliki riwayat minus, atau gangguan mata lainnya. Namun bagi anda yang tidak memiliki minus atau plus, namun ingin terhindar dari bahaya sinar biru, bisa membeli satu paket lensa dan frame EnergeyesXtra di salah satu situs belanja online.

"Selain menggunakan lensa penahan sinar biru, mata juga harus cukup istirahat. Jangan lupa juga untuk mengkonsumsi makanan yang kaya nutrisi seperti wortel dan buah-buahan yang mengandung antioksidan," tutupnya. [dinibudiman/sindo]

KORAN GALAMEDIA - 6 SEPTEMBER 2015

INILAHKORAN 2 SEPTEMBER 2015

KORAN RADAR - 2 SEPTEMBER 2015

KORAN REPUBLIKA - 2 SEPTEMBER